Selasa, 19 Mei 2015

Sumber Daya Alam yang kurang mendapat perhatian

STUDI KASUS


1.                  Kebakaran hutan
Hutan tropika Indonesia telah dikenal di dunia sebagai hutan tropika terluas nomor tiga (3) di dunia, setelah negara Brazil dan Zaire. Pada awalnya diperkirakan luas hutan tropika di Indonesia adalah 164 juta Ha, kemudian berkurang menjadi 143 juta Ha dan pada tahun 1999 diperkirakan tinggal 90-120 juta Ha. Apabila luas daratan Indonesia diperkirakan 190 juta Ha, maka luas hutan di Indonesia tinggal ± 48-64% dari daratan (Suratmo et al. 2003). Kebakaran hutan dan lahan saat ini telah menjadi salah satu bentuk gangguan terhadap pengelolaan hutan dan lahan. Akibat negatif yang ditimbulkan cukup besar misalnya kerusakan ekologis, menurunnya estetika, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktifitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, menurunkan keanekaragaman sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang merupakan sumber plasma nutfah yang tak ternilai. Kebakaran hutan merupakan masalah yang krusial dan perlu penanganan yang sungguh-sungguh. Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu strategi pengendalian kebakaran hutan yang efektif dan efisien.
Berdasarkan penelitian Lennertz dan Pance (1983) beserta teman kerjanya dari Indonesia tercatat 3,5 juta hektar hutan telah mengalami rusak berat akibat musim kemarau yang panjang pada tahun 1982 dan kemudian diikuti kebakaran pada awal tahun 1983. Hutan yang rusak meliputi 800.000 hektar hutan primer, 1.400.000 hektar hutan yang telah ditebang kayu gelondongannya, 750.000 hektar hutan sekunder, perladangan, dan penghunian penduduk, serta 550.000 hektar rawa gambut dan hutan rawa gambut. Di antara hutan yang mengalami musibah itu adalah Taman Nasional Kutai, hutan penelitian, dan banyak areal hutan untuk tanaman percobaan.

2.                  Tanah longsor
 Tanah longsor (landslides) merupakan suatu peristiwa yang biasa terjadi pada lereng-lereng alam (natural slopes) maupun pada lereng buatan manusia (man made slopes). Peristiwa ini merupakan bencana alam yang memiliki frekuensi sangat tinggi pada akhir musim penghujan sehingga peristiwa longsoran sering sekali dikaitkan dengan hujan. Kelurahan Botu merupakan suatu daerah di Kota Gorontalo yang kondisi alamnya terdiri dari pegunungan berlereng terjal sampai ke selatan dan merupakan salah satu daerah yang rawan longsor di Provinsi Gorontalo. Banyak ditemukan titik-titik longsoran terutama setelah turun hujan. Penanggulangan-penanggulangan yang sudah dilakukan seperti pembuatan dinding penahan tanah, pembuatan bronjong, perkuatan tanah dengan geotekstil tetapi hasilnya kurang efektif dan efisien. Kegagalan-kegagalan tersebut disebabkan oleh adanya penanggulangan yang belum tepat dan belum memadai.

Lokasi-lokasi yang rawan longsor umumnya dipengaruhi oleh kondisi geometri lokasi, pola drainase, dan kondisi geologi lokal atau kondisi tanah / batuan (Hardiyatmo, 2007). Berikut ini akan diuraikan hal - hal yang berkaitan dengan Faktor - faktor Penyebab Longsor
a.       Lereng di sisi jalan
Lereng bekas galian badan jalan merupakan lokasi yang rawan longsor. Kaki lereng di sepanjang galian sangat mudah tergerus air sehingga menghilangkan dukungan tanah terhadap longsoran.
b.      Lereng yang terjal
Menurut Karnawati (2005) lereng dengan kemiringan > 400 sangat rentan terhadap longsor. Lereng terjal yang banyak batuan lepas sangat berbahaya, terutama bagi kendaraan yang melintas di bawahnya.
c.       Buruknya sistem drainase
Tidak berfungsinya drainase dengan baik akan memicu aliran air kemana-mana. Air akan berusaha mencari tempat yang lebih rendah dan sebagian akan berinfiltarsi kedalam tanah. Air yang mengalir di dalam tanah dapat menjenuhkan dan melunakkan tanah timbunan dan tanah pondasi jalan yang dapat berakibat rusaknya konstruksi. Demikian pula air permukaan (run off) yang tidak mengalir dengan baik ke luar struktur timbunan, akan menjenuhkan tanah atau merembes masuk ke dalam rekahan batuan yang akan mengurangi kestabilan lereng.
d.      Muka air tanah memotong lereng
Air tanah yang memotong lereng akan menimbulkan munculnya mata air pada daerah ini. Mata air ini diakibatkan oleh terakumulasinya air yang berinfiltrasi ke dalam lereng yang akan melunakkan tanah atau batuan pembentuk lereng.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar